Inilah Cara Untuk Selamatkan Diri Dari Dajjal: Persenjatai Diri Dengan Ilmu Agama

DAJJAL seperti yang telah kita tahu akan datang dan menyebarkan fitnahnya di muka bumi ketika Akhir Zaman tiba, dan adalah rahasia Allah SWT kapan waktu datangnya Dajjal itu. Mengenai hal ini, tentu semua orang tidak menginginkan terkena fitnahnya apalagi sampai dipertemukan dengannya. Namun ada upaya-upaya yang bisa kita lakukan untuk menyelamatkan diri dari Dajjal dan segala bentuk fitnahnya. Salah satu yang bisa kita lakukan adalah dengan memepersenjatai diri kita dengan ilmu Agama.


Penguasaan ilmu agama yang dipadu dengan iman yang kuat kepada Allah SWT merupakan senjata ampuh untuk menghadapi segala bentuk fitnah, termasuk fitnah Dajjal. Rasulullah SAW sudah menyampaikan satu kisah tentang seorang pemuda Mukmin pemberani dari Madinah ketika berhadapan dengan Dajjal. Di dalam hadits tersebut dijelaskan betapa pentingnya ilmu dan iman dalam membentengi diri dari pelbagai macam fitnah.

Abu Sa’id al-Khudri RA menjelaskan, bahwa Rasulullah SAW bersabda,
“Dajjal akan datang, dan ia diharamkan memasuki jalan-jalan kota Madinah. Ia pun singgah di padang gersang (Tanah gersang dengan kandungan garam yang tinggi) yang berada di dekat Madinah. Lalu seorang pemuda Mukmin terbaik menemuinya dan berkata, ‘Aku bersaksi bahwa engkau adalah Dajjal yang telah diwartakan kedatanganmu oleh Rasulullah SAW.’

Dajjal lalu berkata kepada para pengikutnya, ‘Bagaimana pendapat kalian, jika aku membunuh orang ini lalu menghidupkannya kembali, apakah kalian masih meragukan ketuhananku?’
Mereka menjawab ‘Tidak.’

Dajjal pun membunuh pemuda itu dan menghidupkannya kembali. Dalam riwayat lain disebutkan, Dajjal pun menebasnya dengan pedang hingga tubuh pemuda itu terbelah dua, sampai-sampai kedua belahan tubuhnya itu terpisah sejauh tembakan anak panah. Dajjal lalu memanggil pemuda itu. Pemuda itu berdiri dan menghampiri Dajjal dengan wajah berseri dihias senyuman, lalu berkata, ‘Demi Allah, kini aku menjadi semakin yakin tentang dirimu.’”

Riwayat lain menuturkan, ”Ketika Dajjal muncul, seorang pria Mukmin mendatanginya. Para pengawal dan pengikut Dajjal pun menghadangnya. Mereka lantas bertanya, ‘Engkau mau kemana?’
Pria Mukmin itu menjawab, ‘Aku mau bertemu orang yang baru datang itu.’
‘Tidakkah engkau beriman kepada tuhan kami?’ tanya mereka lagi.
Pria itu menjawab, ‘Tuhanku tidak pernah menghilang.’
Mereka pun berkata, ”Bunuh orang ini!’
Namun, di antara mereka ada yang menukas, ‘Bukankah tuhan kalian melarang kalian membunuh seseorang tanpa persetujuannya?’
Mereka lantas membawa orang Mukmin itu. Begitu melihat Dajjal, orang Mukmin itu berseru, ‘Wahai sekalian manusia, ini adalah al-Masih an-Dajjal yang sudah disebutkan oleh Rasulullah SAW.’Dajjal memerintahkan para pengikutnya agar orang Mukmin itu ditelantangkan untuk dibunuh. Ia berkata, ‘Tangkap dan pukuli dia!’
Para pengikut Dajjal pun memukuli perut dan punggung orang orang Mukmin itu bertubi-tubi.
Dajjal lalu bertanya kepada pria itu, ‘Tidakkah engkau beriman kepadaku?’
‘Engakau adalah al-Masih si pendusta besar,’ jawab orang itu.

Dajjal pun memerintahkan para pengikutnya untuk menggergaji tubuh orang Mukmin itu dari ujung tengah-tengah kepala sampai ujung tengah-tengah antara kedua kaki hingga terbelah dua. Setelah itu, Dajjal berdiri di antara kedua belahaan tubuh itu, dan berkata, ‘Bangunlah!’ Tubuh orang Mukmin itu pun berdiri tegak.
‘Apakah sekarang engkau mau beriman kepadaku?’ tanya Dajjal kemudian.
Orang Mukmin itu menjawab, ‘Aku bertambah yakin tentang dirimu.’
Pria itu melanjutkan berbicaranya dengan berkata, ‘Wahai sekalian manusia, ia tidak akan dapat lagi melakukan tindakan yang sama seperti ini kepada siapa pun setelah apa yang kualami ini.’

Dajjal lalu menangkapnya untuk disembelih. Namun Allah SWT menciptakan tembaga yang membalut leher sampai pundak orang Mukmin itu. Sehingga, Dajjal tak bisa membunuhnya. Setelah itu, ia pun memegang kedua tangan dan kaki orang itu, lalu melempar tubuhnya ke dalam api yang dibawahnya. Orang yang melihat menyangka bahwa pria Mukmin itu dilemparkan ke dalam neraka. Namun, sesungguhnya ia dilemparkan ke dalam surga.” Nabi SAW pun bersabda, “Pria inilah syahid teragung di sisi Allah” (HR Muslim)

Intisari hadits tersebut menunjukkan kepada kita pentingnya mempelajari ilmu agama. Seandainya pemuda Mukmin itu sebelumnya tidak memiliki pengetahuan tentang ciri-ciri Dajjal, tentu ia tidak akan tahu bahwa yang dihadapinya itu adalah Dajjal. Karena itu, siapa pun yang menghadapi para pelaku kebatilan, wajib membekali dirinya dengan ilmu.

Pemuda Mukmin itu sudah menegaskan bahwa yang dihadapinya itu adalah Dajjal, dan pembunuhan ini tak akan dilakukan lagi oleh Dajjal kepada orang lain sesudahnya. Penegasan pemuda Mukmin ini disebabkan karena ia adalah seorang penurut ilmu agama yang sebelumnya sudah membaca hadits tentang peristiwa ini. Sehingga, ia pun tahu bahwa pemuda Mukmin yang disebutkan oleh hadits Nabi yang dibacanya itu adalah dirinya. [mila/islampos]

Sumber: Kimat Sudah Dekat?/Dr. Muhammad al-‘Areifi/Penerbit: Qisthi Press/2011