Kisah Ketika Khalid bin Walid Tidak Sengaja Menista


Pada suatu hari, sempat terjadi sebuah cekcok antara Khalid bin Walid dan Abdurrahman bin Auf. Tanpa sadar Khalid ra kelepasan mencaci Abdurrahman bin Auf ra. Kejadian ini pun terdengar oleh Rasulullah SAW.

Maka beliau pun bersabda; “Janganlah kamu sekalian memaki salah seorang sahabatku. Karena sesungguhnya sekiranya salah seorang di antara kalian menginfakkan emas semisal gunung Uhud, maka amalnya itu belum mencapai satu mud seseorang di antara mereka atau setengahnya.” (HR. Ahmad, Bukhari, dan Muslim)

Rasulullah SAW tentu tidak bermaksud pilih kasih. Namun memang kenyataan berkata bahwa Abdurrahman bin Auf lebih awal keislamannya, dan itu berarti lebih awal penerimaannya terhadap wahyu, dan hal itu juga berarti dia lebih awal hidup dan berjuang bersama Muhammad SAW.

Kendati Khalid bin Walid ra sendiri bukanlah seseorang dengan kualitas sembarangan. Khalid ra yang pernah menghancurkan pasukan muslimin dalam perang uhud, setelah memeluk Islam menjelma menjadi prajurit paling kuat dan paling jenius dalam barisan kaum muslimin, hingga dia digelari sebagai “pedang Allah”.

Khalid ra juga termasuk dalam deretan sahabat yang mulai berinfaq dan berperang sebelum peristiwa Fathu Makkah. Allah SWT berfirman: “Tidak sama di antara kamu orang-orang yang berinfaq dan berperang sebelum penaklukan (Makkah). Mereka lebih tinggi derajatnya daripada orang-orang yang berinfaq dan berperang sesudah itu.” (Al Hadid: 10)

Nyatanya hal itu tidak menghalangi Rasulullah SAW untuk memarahi Khalid bin Walid ra. Rasulullah SAW ingin menegaskan bahwa para sahabat adalah manusia-manusia terbaik yang tidak pantas dicela dan dihina bahkan oleh seorang Khalid sekalipun. “Sebaik-baik kurun (abad/zaman) adalah kurunku, kemudian yang sesudahnya, kemudian yang sesudah mereka.” (HR. Bukhari)

Para sahabat sebagai sekumpulan orang yang bertemu Nabi Muhammad SAW, memeluk Islam dan mati dalam keadaan Islam telah mendapatkan pujian dari Rabbul ‘Alamin Allah SWT. Dalam surat Al Fath disebutkan “Muhammad adalah utusan Allah, dan orang-orang yang bersamanya adalah yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, tetapi lemah lembut terhadap sesama mereka.” (Al Fath: 29)

Begitu juga dalam surat At Taubah; “Sesungguhnya Allah telah menerima taubat Nabi, kaum Muhajirin, dan kaum Anshar, yang mengikuti Nabi pada masa-masa sulit.” (At Taubah: 117)

Imam As Syaukani dalam kitab tafsirnya Fathul Qadir menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan “masa-masa sulit” adalah masa-masa pada perang Tabuk. Syaikh Shafiyurrahman Al Mubarakfuri dalam Ar Rahiq Al Makhtum menggambarkan bahwa dalam ekspedisi tabuk, Rasulullah SAW berangkat bersama 30.000 pasukan. Belum pernah sebelumnya kaum muslimin berperang dengan pasukan sebanyak itu.

Imbasnya pasukan kaum muslimin tidak dapat bersiap secara maksimal baik dari segi perbekalan harta maupun makanan. Bahkan mereka juga kekurangan dalam hal tunggangan. Di mana hanya tersedia seekor unta untuk setiap delapan belas orang. Sebagian dari mereka bahkan terpaksa memakan dedaunan hingga mulut mereka membengkak. Dan untuk membasahi kerongkongannya, mereka terpaksa menyembelih unta untuk mengambil air yang tersimpan di dalam perutnya.

Karena itulah pasukan ini dikenal dengan sebutan “Jaisyul ‘Usrah” atau pasukan yang kesulitan. Wajar kiranya jika orang-orang yang istiqomah dan setia bersama Rasulullah SAW dalam kondisi sesulit itu diterima taubatnya oleh Allah SWT.

Kesetiaan para sahabat dalam ekspedisi Tabuk hanyalah satu dari sekian potret kesetiaan mereka terhadap dakwah kenabian. Mereka merupakan generasi terbaik dari umat Islam yang kelak akan menjadi teladan bagi generasi selanjutnya.

Mereka adalah orang-orang yang mengubah firman-firman Allah SWT menjadi amal nyata. Sampai-sampai kita tidak akan mampu membedakan kehidupan mereka dengan ayat Al Qur’an. Semua itu karena mereka telah dididik langsung oleh Muhammad SAW, sang murabbi terbaik yang juga dididik langsung oleh Rabbul ‘Alamin Allah SWT.

Dan sekali lagi Khalid ra adalah salah satu di antara mereka. Dan Rasulullah SAW masih memarahinya ketika dirinya “keceplosan” mencela Abdurrahman bin Auf ra.

Lalu pertanyaannya, siapa kita di hadapan seorang Khalid. Siapa kita yang seringkali mencela Rasulullah SAW dan mengolok-olok ajarannya tanpa setitik pun rasa bersalah dalam kalbu.

Penulis : Rusydan Abdul Hadi

Sumber: [kiblat]