Kisah Saat Hari Dimana Allah Mencabut Nyawa Nabi-Nya


Senin, hari dimana Rasulullah wafat. Ketika itu beliau keluar melihat kaum Muslimin yang sedang menunaikan shalat Shubuh. Beliau mengangkat kain penutup kamarnya lalu keluar berdiri di pintu ‘Aisyah. Kaum Muslimin hampir saja membatalkan shalat mereka tatkala mereka melihat beliau karena demikian riang gembira. Mereka merenggangkan shaf agar beliau dapat berjalan ke tempat imam, namun beliau memberi isyarat kepada mereka agar tetap berada dalam shalat. Rasulullah tersenyum bahagia melihat shalat kaum Muslimin dan mereka belum pernah melihat Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wasallam berpenampilan indah mempesona seindah Shubuh hari itu. Setelah itu, Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wasallam pulang begitu juga dengan kaum Muslimin lainnya yang kali ini sangat yakin bahwa beliau telah sembuh dari sakitnya.

Di hari itu, Rasulullah keluar dari kamarnya menuju masjid untuk menunaikan shalat Shubuh. Tatkala Rasulullah berada di masjid, kaum Muslimin merasa lega dan Abu Bakar pun tahu bahwa kaum Muslimin berbuat seperti itu demi Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wasallam.

Oleh sebab itulah, Abu Bakar melangkah mundur dari tempat imam, namun Rasulullah mendorongnya dari belakang sambil bersabda, “Tetaplah engkau menjadi imam shalat untuk kaum muslimin.”

Rasulullah duduk di samping Abu Bakar dan bertakbir melaksanakan shalat sambil duduk di sebelah kanan Abu Bakar.

Seusai shalat, Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wasallam berbicara kepada kaum Muslimin dengan nada yang tinggi hingga suaranya keluar dari pintu masjid.

Rasulullah bersabda, “Wahai manusia, neraka telah dinyalakan dan terus berkobar-kobar dan beragam ujian telah datang bagaikan serpihan malam yang gelap gulita. Demi Allah, kalian tidak bisa meletakkan tugas kewajibanku. Sungguh aku tidak menghalalkan apapun kecuali yang dihalalkan Al-Qur’an dan tidak mengharamkan apapun kecuali yang diharamkan Al-Qur’an.”

Seusai Rasulullah bersabda seperti itu, Abu Bakar berkata, “Wahai Nabi Allah, pada pagi ini engkau sungguh terlihat berada dalam nikmat Allah dan keutamaan-Nya sebagaimana yang kami harapkan. Hari ini adalah hari Bintu Kharijah, bolehkah aku datang menemuinya?

Rasulullah menjawab, “Ya.”

Abu Bakar pun pulang ke rumahnya di kebun Sunh.

Pada hari Senin tersebut kaum muslimin menanti-nanti kabar Rasulullah dari Ali bin Abu Thalib yang kala itu telah keluar dari kediaman Rasulullah.

Mereka berkata, “Wahai Abu Hasan, bagaimana kondisi Rasulullah pada pagi ini?”

Ali bin Abu Thalib menjawab, “Alhamdulillah, pagi ini beliau sehat bugar.

Al-Abbas bin Abdul Muthalib memegang tangan Ali bin Abu Thalib, kemudian berkata, “Wahai Ali, setelah tiga hari engkau akan menjadi seorang budak. Aku bersumpah dengan nama Allah, sungguh aku melihat rona kematian di wajah Rasulullah sebagaimana pemah aku lihat pada wajah-wajah Bani Al-Muthalib. Mari kita masuk ke tempat Rasulullah. Jika perkara siapa penerus beliau berada di tangan kita maka kita akan mengetahuinya, namun apabila perkara ini diberikan kepada orang selain kita maka kita minta beliau berwasiat untuk kita kepada manusia.

Ali bin Abu Thalib berkata kepada Al-Abbas bin Abdul Muthalib, “Demi Allah, aku tidak mau melakukannya. Demi Allah, jika perkara ini tidak diserahkan kepada kita, maka ia tidak akan diberikan kepada siapa pun sepeninggal beliau.

Di hari itu, Rasulullah pulang dari Masjid beliau kemudian berbaring di atas pangkuan ‘Aisyah. Tiba-tiba masuklah Ali bin Abu Thalib dan seseorang dari keluarga Abu Bakar dengan membawa siwak berwarna hijau.

Rasulullah Shalllahu ‘Alaihi wasallam melihat siwak yang ada di tangan sahabat tersebut dan dari isyarat itu aku memahami bahwa beliau menginginkan siwak tersebut.

‘Aisyah berkata, “Wahai Rasulullah, apakah engkau mau aku beri siwak ini?”

Rasulullah menjawab, “Ya.”

‘Aisyah pun mengambil siwak lalu mengunyahnya hingga lembek, dan memberikannya kepada Rasulullah. Lalu beliau menggosok giginya dengan siwak tersebut dan ‘Aisyah belum pernah melihat beliau menggosok giginya seperti itu sebelumnya, kemudian beliau meletakkan siwak tersebut. Aku rasa tubuh Rasulullah terasa berat di pangkuannya. ‘Aisyah melihat wajah beliau, ternyata pandangan beliau terbuka tajam.

Beliau bersabda, “Bersama teman yang paling tinggi di surga.”

‘Aisyah berkata kepada Rasulullah, “Engkau diperintah untuk memilih, lalu engkau engkau telah memilih. Demi Dzat yang mengutusmu dengan kebenaran.”

Ibnu Ishaq menuturkan: Yahya bin Abbad bin Abdullah bin Zubair bercerita kepadaku, dari ayahnya, Abbad, ia berkata: Aku mendengar Aisyah Radhiyallahu ‘anha berkata, “Rasulullah wafat di pangkuanku dan pada hari giliranku. Aku tidak pernah menzalimi siapa pun.

Kemudian Rasulullah wafat tatkala matahari telah naik memasuki waktu dhuha pada hari itu.

Allahumma shalli ‘alaa sayyidina Muhammad

Referensi: Sirah Nabawiyah perjalanan lengkap Kehidupan Rasulullah/ Asy Syaikh Al Muhaddits Muhammad Nashiruddin Al Albani/ Akbar Media
[jalansirah]