Ada yang Janggal, Kenapa Densus 88 Larang Keluarga Buka Kafan Jenazah MJ?


Polri diminta terbuka terkait penyebab kematian terduga teroris berinisial MJ usai ditangkap Densus 88 Antiteror. Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah Dahnil Anzar Simanjuntak menemukan kejaggalan dalam kematian MJ.

“Agar sinyal kejanggal-kejanggalan tersebut tidak menjadi fitnah dan tuduhan terhadap Kepolisian, penting agaknya, Densus 88, perlu menjelaskan secara terbuka hasil autopsi terhadap MJ,” katanya melalui keterangan tertulis di Jakarta, Rabu (14/2).

Atau lebih baik, menurutnya, dilakukan autopsi yang lebih independent terkait sebab kematian MJ. “Apakah benar yang bersangkutan meninggal karena komplikasi penyakit seperti keterangan polisi, atau karena faktor yang lain,” sebut dia.

Kata Dahnil, Densus 88 juga harus menjawab kenapa keluarga dilarang membuka kafan jenazah MJ pada saat diserahkan.

“Jadi, saya berharap Densus 88 dan Kepolisian terbuka, dan bila memang ada kesalahan maka harus ada hukuman pidana yang jelas, tidak seperti kasus Siyono,” tuturnya.

Adapun Siyono merupakan terduga teroris di Klaten yang ditangkap tim Densus 88 Antiteror Mabes Polri pada 2016 silam. Dia meninggal usai ditangkap namun hingga, 1,5 tahun lebih tidak jelas proses hukumnya. Padahal, kata Dahnil, autopsi sudah membuktikan Siyono meninggal karena penganiyayaan bukan karena yang lain.

Untuk itu, keterbukaan pihak Kepolisian penting supaya preseden buruk tidak terulang lagi dan menimbulkan terorisme baru. “Peristiwa seperti ini Bukan justru mengubur terorisme namun justru mereproduksi terorisme baru,” imbuhnya.

Selain itu, Dahnil menyarankan kepada pihak keluarga agar tidak diam. Mereka perlu membawa kasus kematian MJ ke Komnas HAM agar untuk membuktikan penyebab kematian MJ.

“Saran saya keluarga berusaha mencari keadilan secara aktif dan tidak perlu takut. Silahkan bawa kasus kematian MJ ke Komnas HAM. Ini penting, dan polisi tidak boleh tertutup terkait dengan hal ini,” pungkasnya.
[jawapos]