Angkat Bicara Soal Penghadangan Anies, Tere Liye: “NORAK”


Penulis novel terkenal Tere Liye akhirnya ikut merespons insiden penghadangan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan di Final Piala Presiden 2018, Sabtu, 17 Februari di Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta.

Dalam tulisannya yang viral di media sosial, Tere tampak tak bisa menyembunyikan kekesalannya dengan peristiwa tersebut. Dia pun membuat judul artikelnya dengan “Norak”.

Berikut tulisan lengkapnya:

Tadi malam, saat Persija menjadi juara Piala Presiden, terselip kejadian yang sangat norak. Ketika Gubernur Jakarta dihalangi untuk ikut acara protokoler penyerahan piala. Apapun argumennya, apapun penjelasannya, kejadian ini menjadi contoh yang sangat buruk.

Silahkan pakai akal sehatnya, pahami situasinya dengan tenang, jelas sekali terang-benderang masalah ini. Terlebih jika membaca klarifikasi yang diberikan oleh panitia acara ini, semakin norak saja dilihat.

Menurut UU Nomor 9 Tahun 2010 tentang Keprotokolan situasi ini jelas. Menurut ‘yurisprudensi’ prosesi penyerahan piala yang sama tahun2 sebelumnya juga jelas. Menurut etika dan kepantasan juga jelas. Tapi entah kenapa, tadi malam semua mendadak tidak jalan. Logika, akal sehat, dibungkam oleh sumpeknya sesuatu.

Olahraga, lebih-lebih sepakbola, adalah event yang universal, respek, penuh kegembiraan, maka akan hancur sudah nilai-nilainya ketika politik diikutsertakan. Apakah ini kejadian sepele? Tidak. Itu justeru simbol sesuatu yang sangat serius di negeri ini. Sampai kapan kita akan dipenuhi kebencian, prasangka.

Setiap kali pilkada, pilpres, kita membuat kelompok-kelompok, untuk kemudian, saat pilkada, pilpres berikutnya datang, kita membuat kelompok-kelompok lagi, lagi, dan lagi. Lebih kacau lagi dalam masalah ini, kita lebih sibuk saling memaki, cebong, bani serbet, kaum bumi datar, onta, arab, dan semua makian bagi kedua kelompok yang berbeda terlontar satu sama lain.

Kita lupa, negeri ini terlalu besar, terlalu berharga hanya untuk diisi oleh fans politik yang setiap hari cuma membahas ituuu saja. Kita lupa esensi yang lebih penting dibanding pertikaian politik, yang duh Gusti, hari ini mereka ‘musuhan’ besok2 mereka malah koalisi. Dasar fans dodol! Belajarlah dari sejarah pilpres/pilkada sejak tahun 2004.

Penulis Pram dulu pernah menulis: “Adil sejak dalam pemikiran.” Mulailah renungkan quote ini dengan serius: apakah kita memang adil sejak dalam pemikiran. Apapun kelompok kita, mulailah berbuat “adil sejak dalam pemikiran”. Hari ini mungkin korbannya adalah kita, tapi besok lusa, boleh jadi pelakunya adalah kita. Sebaliknya, hari ini kita tertawa, besok giliran kita yang dizalimi.

Semoga kejadian ini adalah yang terakhir. Berhentilah mempertontonkan kelakuan norak.

Tere Liye

Sumber: [dmn]