Kisah Seorang Mahasiswa Korbankan Gelar Demi Bimbing Keluarganya Untuk Masuk Islam


Madinah – Untuk sebuah kemuliaan bersama di akhirat, ia tinggalkan kehormatan dunia yang sementara. Kisah mahasiswa ini dituturkan oleh Syaikh Falah Ismail dalam ceramahnya pada Selasa 8 Februari 2011, seperti dikutip dari situs Abdurrahman.org.

Syaikh berkisah tentang seorang mahasiswa di Madinah yang ia temui sekitar 30 tahun silam. “Kami dulu tinggal dan belajar bersama,” katanya.

Ia mengatakan bahwa mahasiswa tersebut sangat baik dan rajin belajar. “Pada tahun pertama ia belajar dengan baik, tahun kedua juga demikian, begitu pula tahun ketiga,” ungkapnya.

Namun, lanjut Syaikh, pada tahun berikutnya tiba-tiba ia mengatakan kepada saya akan kembali ke negara asalnya, yakni di Inggris. Kawan dan juga para dosen pun bertanya kepadanya, “Mengapa kamu ingin pergi, padahal kuliahmu tinggal sebentar lagi? Sebentar lagi kamu juga akan mendapat gelar sarjana, setelah itu kamu bisa pulang.”

Syaikh mengatakan bahwa mahasiswa itu mulai menangis, lalu mengungkapkan bahwa dirinya baru saja menerima telepon dari keluarga yang mengabarkan tentang ayahnya yang masuk rumah sakit. “Mahasiswa itu mengatakan ia takut ayahnya meninggal dalam kondisi kafir,” jelasnya.

“Kami pun mengatakan kepadanya bahwa ayahmu mungkin tidak akan mati, banyak orang pergi ke rumah sakit, tetapi tidak semua orang mati dengan segera,” ujar Syaikh.

Meski demikian, mahasiswa itu tetap berniat pulang sesuai dengan panggilan hatinya. “Jadi dia naik pesawat dan pulang. Tidak menyelesaikan kuliah di tahun berikutnya,” imbuh Syaikh Falah.

“Dia tidak peduli tentang gelar. Dia jujur kepada Allah dengan niatnya untuk membimbing ayahnya kepada Islam. Dia benar dan Allah pun Maha Benar,” lanjutnya.

Setelah beberapa hari, mahasiswa itu menghubungi Syaikh Falah dan mengabarkan bahwa ayahnya telah masuk Islam. Dia juga bersyukur bahwa ayahnya meninggal dalam kondisi Islam di rumah sakit yang sama.

Selang beberapa tahun, Syaikh Falah berkesempatan mengunjungi mahasiswa itu. Tak disangka, saat itu didapati bahwa ibunya telah menjadi Muslimah. Seluruh keluarga dia akhirnya juga masuk Islam.

Syaikh pun lalu berpesan kepada orang-orang yang mengikuti ceramahnya tersebut. “Yang kita pelajari dari cerita ini, bahwa jika Anda benar-benar peduli tentang keluarga di mana mereka adalah non-Muslim, maka fokuskan waktu dan lakukan apa yang Anda bisa untuk membimbing mereka kepada Islam,” tutupnya.

Sumber: [kiblat]