Soal Kasus Novel Baswedan: Ada 167 Penyidik, 66 Saksi, dan 4 Sketsa Pelaku, Tapi Pelakunya Kok Belum Juga Tertangkap?


Kasus penyiraman air keras berjenis asam sulfat terhadap penyidik senior KPK Novel Baswedan masih misterius. Sepuluh bulan berlalu, pelakunya masih gentayangan.

Satu subuh di April 2017, wajah Novel basah oleh cairan yang kemudian diketahui sebagai air keras. Kejadiannya di Jalan Deposito dekat Masjid Al-Ihsan di kompleks rumah Novel, Kelapa Gading, Jakarta Utara.

Tak lama, tim KPK tiba di lokasi kejadian. Pimpinan KPK juga langsung melaporkan kasus penyiraman ke Mabes Polri. Meski begitu KPK memastikan kinerja KPK tak terganggu dengan musibah yang menimpa Novel.

Kapolres Jakarta Utara kala itu, Kombes Dwiyono, menyebut pelaku berjumlah 2 orang dan menaiki kendaraan bermotor berjenis matic. Polisi kemudian mengambil sampel air keras saat melakukan olah TKP dan memeriksa 14 orang saksi.

Kapolri Jenderal Tito Karnavian langsung memerintahkan Polda Metro Jaya membentuk tim khusus untuk mengusut kasus ini. Kapolda Metro Jaya kala itu, Irjen Iriawan, menyebut ada ‘aktor’ intelektual di balik penyiraman Novel.

Menurut Polisi, ada orang berperawakan besar yang kerap bolak-balik rumah Novel beberapa hari sebelum kejadian. CCTV dan foto terkait teror turut diperiksa.

Ola TKP dilakukan lebih dari 4 kali, namun sidik jari pelaku tak berhasil diketahui. Pegawai KPK minta Presiden bentuk Tim Pencari Fakta (TPF).

Pada 21 April 2017, Polisi memeriksa 2 orang mencurigakan yang setelah diselidiki ternyata bukan merupakan pelaku penyiraman.

Tim khusus bentukan Polda Metro Jaya kemudian bertukar informasi dengan KPK. Belum bisa disimpulkan apakah teror tersebut berhubungan dengan perkara yang tengah ditangani Novel di KPK atau tidak.

Kadiv Humas Polri Irjen Setyo Wasisto kemudian menyatakan Polri telah mengantongi identitas pelaku penyiraman. Namun, pelaku belum bisa ditangkap.

“(Pelaku) tidak hanya dikantongi, tapi sudah diketahui,” kata Setyo kala itu.

Dalam rangka menggali keterangan Novel, Polisi terbang ke Singapura, pada Mei 2017. Hasilnya, Polisi mengamankan AL yang diduga sebagai pelaku penyiraman pada 9 Mei 2017 atas petunjuk foto dari Novel.

Namun, ternyata AL bukanlah pelakunya. Dia dilepaskan Polisi sekitar 3 hari kemudian setelah diamankan.

Setelah melepaskan AL, Polisi kemudian mengamankan Mico yang merupakan keponakan Muhtar Ependy, salah seorang tersangka suap di KPK. Namun lagi-lagi penyelidikan Polisi buntu. Mico kemudian dilepaskan karena punya alibi berada di Bandung saat penyiraman terjadi.

Kapolri kemudian menyebut terdakwa e-KTP Miryam Haryani berpotensi terlibat dalam kasus penyiraman. “Termasuk pencarian penjualan barang-barang air keras dan motif orang yang pernah sakit hati (terhadap Novel),” ucap Tito, Selasa (23/5/2017).

Awal Juni 2017, Novel kepada media AS TIME menyebut adanya kemungkinan keterlibatan jenderal di balik teror terhadapnya. Terkait hal ini Poliri lalu mengirim tim ke Singapura.[]

Sumber: Detik [sn]